Hilangnya Mitembiyan
Perubahan bisa terjadi pada lapisan masyarakat
tanpa mengenal status maupun perbedaan dengan yang lain. Masyarakat akan
mengalami perubahan, disebabkan oleh adanya keinginan dari diri secara kolektif
untuk berpindah keadaan. Perpindahan ini dapat mengarah kepada progresif maupun
regresif tergantung hal yang mempengaruhi keadaan tersebut. Hal yang dapat
mempengaruhi perubahan berasal dari dalam maupun luar lingkungan masyarakat.
Arah yang dituju masyarakat ditentukan secara tidak langsung, karena proses
perubahan yang biasa terjadi dilakukan tanpa rekayasa. Selain itu, perubahan
hasil dari spontanitas masyarakat dalam menghadapi perkembangan kehidupan. Pengaruh
yang diberikan oleh perkembangan zaman dan tekhnologi memberikan dampak yang
besar dalam tranformasi masyarakat.
Di Kampung Citapen, Kecamatan Cipatat,
Kabupaten Bandung Barat, masyarakat sekitar mengalami perubahan yang cepat terhitung
mulai dari 10 tahun yang lalu. Dahulu masyarakat mempunyai kebiasaan yang sudah
menjadi tradisi yaitu mitembiyan. Kegiatan ini merupakan ungkapan rasa
syukur terhadap Allah SWT atas hasil panen yang telah diberikan. Masyarakat
melakukan mitembiyan biasanya sesudah melakukan panen dari sawah. Hampir
setiap kepala keluarga sering melakukan hal tersebut dan umumnya
bermatapencaharian sebagai petani. Dalam kegiatan ini warga menyediakan
makanan-makanan yang dibuat dari olahan beras menjadi berbagai macam makanan.
Biasanya membuat 7 jenis makanan yang berbeda-beda, tetapi dari bahan pokok
yang sama. Pelaksanaannya warga mengisi dengan shalawatan, mengaji Al-Quran dan
makan bersama. Namun, dalam kegiatan ini ada sisipan-sisipan yang aneh yaitu
menyediakan sesajen yang ditujukan kepada Dewi Sri yang dianggap sebagai sosok
keberkahan dalam panen padi. Masyarakat menyedikan sesajen untuk dipersembahkan
dalam acara tersebut sekaligus dengan syukuran pada Allah. Hal itu terlihat ada
dua dimensi yang berbeda dalam satu kegiatan, sehingga saling mempengaruhi
dalam sistem religi dan sosial masyarakat.
Mitembiyan mempunyai nilai religi, sosial dan budaya yang melekat di
masyarakat. Dari dimensi religi, mitembiyan mengandung nilai dakwah.
Dalam pelaksanaanya mengandung kegiatan dakwah seperti membaca shalawat yang
ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya sebagai
tauladan terbaik umat islam. Selain itu juga membaca Al-Quran sebagai ungkapan
rasa syukur terhadap Allah yang telah memberikan kesejahteraan. Hal-hal
tersebut dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat terhadap Allah,
karena dengan hal itu dapat mengkondisikan masyarakat mengarah pada perbaikan
hidup.
Dari
segi sosial mengandung ikatan silahturahmi, sedangkan pada budaya menjadi
kekayaan. Kegiatan tersebut dapat meningkatakan rasa kepedulian dan sosialisasi
yang tinggi antara masyarakat, karena adanya kebersamaan dan ikatan yang kuat
di masyarakat. Sosialisasi dapat mengharmonisasikan hubungan antar warga,
sehingga dapat meminimalisasi terjadinya konflik yang ada. Selain itu,
sosialisasi dapat meningkatkan cinta, kasih sayang, dan kepedulian terhadap
sesama. Dengan hal ini dapat mengurangi petentengan dan konflik yang ada di
masyarakat. Dari sosialisasi akan meningkat menjadi silahurahmi, hal ini
mengarah pada hubungan yang lebih kuat di masyarakat. Disana akan tercipta
keterikatan emosional dalam hubungan
sosial.
Dalam hal buadaya, mitembiyan disebut sebagai kekayaan adat yang tercipta
dari kebiasaan masyarakat. Dalam pelaksanaanya ada akulturasi antara budaya dan
agama islam, hal itu dapat dilihat dari dua sisi lingkupannya. Dari segi
budaya, adanya akulturasi menambah kekayaan adat dan memberi warna terhadap
kegiatan yang dilakukan yaitu mitembiyan. Sedangkan dari segi agama,
kegiatan ini menjadi metode terhadap penerapan dan pengembangan nilai-nilai
islam. dakwah akan berkembang dan mudah untuk diterima oleh masyarakat, karena
masuk melalui kebiasaan yang umum dilakukan dan tidak menjadi paksaan terhadap
pelaksanaannya. Hal yang menjadi kekhawatiran dalam kegiatan tersebut yaitu
adanya persembahan pada arwah nenek moyang mereka. Hal tersebut masih melekat
terhadap kebiasaan yang ada di kegiatan itu, sehingga sulit untuk
menghilangkannya. Masyarakat percaya kepada hal-hal yang berhubungan dengan
mistik, karena sudah menjadi hal yang turun temurun dipercaya oleh warga
sekitar. Kepercayaan itu seperti suatu hal yang harus dipelihara, karena
menyangkut tradisi dan kebiasaan masyarakat dalam mempertahankan budayanya.
Namun sekarang mitembiyan sudah tidak
dilakukan lagi, dikarenakan oleh faktor yang mempengaruhi dari luar, seperti
modernisasi dan globalisasi. Kegiatan ini sudah jarang untuk ditemukan, banyak
faktor yang mempengaruhi perubahan hal-hal itu. Masyarakat menjadi acuh dan
individual dalam sosialisasinya di masyarakat. Tidak ada lagi kegiatan yang
mengumpulkan masyarakat, hal tersebut akan mengurangi rasa kepedulian sehingga
menyebabkan sikap acuh terhadap keadaan sesama. Perubahan tingkah laku
masyarakat jelas memberikan dampak dalam kehidupan sosial.
Mitembiyan hilang dari adat masyarakat setempat, karena adanya
perubahan cara berfikir masyarakat. Dari teori modernisasi, masyarakat akan
mengarah pada perubuhan pola pikir karena dipengaruhi oleh kemajuan dan
perkembangan zaman yang mengarah pada kemodernan. Hal tersebut berdampak pada
perubahan cara berfikir masyarakat, sehingga menjadikan masyarakat tidak
terpaku pada tradisi tertentu. Masyarakat menjadi terbuka terhadap hal-hal baru
yang akan memberikan dampak terhadap pemikiran di kehidupan.
Dalam teori modernisasi, adanya pengaruh yang
diberikan lingkungan berupa kemajuan dan perkembangan zaman, secara tidak
langsung akan mengarahkan masyarakat pada perkembangan pemikiran juga. Dari hal
itu akan mengahasilkan masyarakat yang lebih modern, terutama dalam pemikiran
dan pandangan hidup. Namun dari beberapa aspek, timbul kehawatiran yang akan
terjadi, misalnya hilangnya kebersamaan dan semangat dakwah. Mitembiyan
dapat memberikan kesempatan dan peluang bagi perkembangan zaman, namun juga
memberi kekhawatiran terhadap sosialisasi di masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar