Kenaikan Tarif BBM
Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia
kompleks dan belum ada solusi yang optimal dalam penyelesaiannya. Salah satu
masalah yang melanda Indonesia yaitu ketersediaan bahan bakar minyak. Walaupun
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai sumber daya alam yang
melimpah, namun juga harus diperhatikan kehidupan selanjutnya. Sumber daya alam
yang terus dieksploitasi tanpa ada usaha untuk memperbaharui dan
melestarikannya maka akan habis. Hal ini tentu berdampak pada kehidupan
selanjutnya. Ketersediaan bahan bakar minyak di Indonesia bukan untuk kehidupan
saat ini saaja, tetapi juga untuk generasi selanjutnya. Kita sebagai warga
Indonesia dituntut untuk melestarikannya, tindakan kecil yang dapat dilakukan
yaitu dengan menghemat penggunaannya. Kekayaan yang dimiliki bukan untuk
dihamburkan, tetapi harus dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan. Mungkin selama
ini kita hanya memikirkan kebutuhan pribadi tanpa memperhatikan alam. Misalnya
saja kita menggunakan kendaraan untuk menempuh jarak 100 meter. Sebenarnya
jarak sedekat itu dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja. Ketersediaan BBM
sudah menjadi persoalan yang serius, jika semakin menurun maka akan berdampak
pada aspek kehidupan.
Baru-baru ini telah dinaikkan tarif dasar
listrik, hal itu disebabkan oleh ketersediaan listrik yang juga semakin
menurun. Penyebab dari penurunan ini salah satunya telah berkurangnya debit air
yang ada pada PLTA sehingga berdampak pada kebutuhan listrik. Begitu juga yang
terjadi pada BBM, tahun 2012 pemerintah telah merencanakan kenaikkan harga BBM
yang berlaku untuk semua pihak. Namun, kebijakan itu mendapat reaksi yang besar
dari masyarakat. Demonstrasi terjadi di berbagai daerah sehingga tidak sedikit
yang mengganggu aktifitas. Akhirnya kebijakan itu belum dapat terealisasikan
dan pemerintah masih memberikan subsidi. Efek dari tindakan tersebut
menyebabkan meningkatnya anggaran yang dikeluarkan untuk subsidi dan berdampak pada
kebutuhan kedepannya. Di tahun ini pemerintah berencana untuk menaikkan BBM,
tentu akan timbul kontroversi di masyarakat. Usaha untuk menghemat BBM telah
dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan memberikan stigma dan aturan bahwa yang
berhak memakai BBM bersubsidi hanya kalangan kurang mampu. Tetapi fakta yang
terjadi belum sesuai dengan harapan, banyak orang yang mampu tetapi memilih
untuk memakai BBM bersubsidi. Hal itu tentu telah mengambil hak pihak yang
kurang mampu dan tentu merugikan negara. Nampaknya stigmatisasi yang diberikan
belum mampu mengoptimalkan masalah BBM.
Usaha yang dilakukan oleh pemerintah belum
berjalan secara optimal, karena diperlukan kebijakan yang tegas dan terkontrol.
Jika dianalisis perlu adanya pemisahan hak yang tegas dalam mendapatkan BBM
yang bersubsidi. Pemerintah harus membagi dua pihak dalam masalah ini yaitu
kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Hanya kendaraan umum yang berhak memakai
BBM bersubsidi, karena hal itu bertujuan untuk mengurangi beban pemerintah
dalam memberikan subsidi, mengurangi jumlah kendaraan yang semakin bertambah,
dan mengurangi kemacetan. Dengan adanya tindakan tersebut, masyarakat akan
memilih untuk menggunakan kendaraan umum daripada pribadi. Sedangkan untuk
kendaraan pribadi diharuskan untuk memakai BBM yang tidak bersubsidi sebagai
konsekuensi dalam kepemilikan hartanya. Tindakan yang lebih lanjut yaitu dengan
membedakan harga BBM berdasarkan status kepemilikian. Pemerintah harus
mengeluarkan kebijakan yang mencatatkan kepemilikan umum atau pribadi, tentu
dengan identitas masyarakat yang jelas.
Adanya perbedaan hak untuk mendapatkan BBM
yang sesuai dengan kebutuhannya akan mengurangi masalah yang sedang dihadapi
Indonesia. Di negara maju, kepemilikan atas barang mewah contohnya mobil dan
motor sangat ketat dan tegas. Tidak hanya itu konsekuensi yang diberikan pun
tegas, karena hal itu telah menjadi keharusan pemilik baraang tersebut.
Lemahnya pengawasan dan kurangnya aturan yang tegas menjadikan Indonesia negara
dengan sederet masalah. Pemerintah harus tegas dalam mengeluarkan kebijakan,
karena tegas bukan berarti otoriter dan penurut, namun sikap yang harus
dimiliki oleh pemimpin. Mungkin akan banyak kontroversi yang terjadi dalam
sebuah kebijakan, namun harus mempertimbangkan dampak yang terjadi kedepannya.
Kebijakan yang kecil adalah kebijakan yang sedikit risikonya, bukan sebaliknya.
Jika BBM terus dieksploitasi tanpa ada usaha untuk perbaikkan akan habis dan
nasib generasi selanjutnya akan dipertanyakan. Maka perlu adanya ketegasan
hukum dan kebijakan yang tidak memandang salah satu pihak saja, sehingga
tercipta keberhasilan dalam mengatasi maslah ini. Dengan adanya kerjasama yang
sinergi maka akan menciptakan hasil yang dapat diterima oleh semua pihak.
Masyarakat dan pemerintah merupakan subyek dalam kehidupan ini, karena
menyangkut kebutuhan yang harus dipenuhi. Selain itu juga dibutuhkan sikap
saling menyadari dan bijak dalam menjalaninya.
Disusun oleh:
Aas Sadiah
Kp. Citapen RT 06 Rw 18, Ds. Rajamandala, Kec.
Cipatat, Kab. Bandung Barat 40554
HP 085721374943
Tidak ada komentar:
Posting Komentar