Rabu, 26 Desember 2012

Ganguan Jiwa dan mental



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
           Manusia terdiri dari fisik dan psikis yang saling mendukung dalam terciptanya pribadi yang sempurna. Keadaan fisik dari luar dapat dikatakan sebagai gambaran psikis suatu individu. Secara langsung psikis manusia akan mempengarihi fisiknya, begitupun sebaliknya psikis juga akan berpengaruh pada keadaan fisik manusia. Kondisi yang sehat dan bugar secara jasmani merupakan hasil dari psikis yang ada dalam kondisi sehat dan tidak sedang mempunyai masalah. Dua hal ini menjadi satu kesatuan yang sangat berperan dalam pembangunan kepribadian manusia. Jika salah satu dari hal tersebut mangalami gangguan maka akan berdampak pada bagian lainnya. Fisik apat dilihat dari luar, seperti keadaan kekebalan tubuh yang menurun atau meningkat, sedangkan psikis terlihat eksplisit gejalanya. Hanya pada kondisi tertentu keadaan ini bisa terlihat, bahkan bisa jadi hanya diri sendiri yang mengetahuinya. Dalam keadaan yang primalah akan mampu menyeimbangkan kondisi tubuh dalam diri manusia.
           Dalam hal psikis terdapat gangguan yaitu gangguan kejiwaan dan mental. Kedua hal ini terlihat sama, tetapi mempunyai makna dan kajian yang berbeda. Ganggua kejiwaan merupakan gangguan yang dialami individu terhadap keadaan jiwa (alam tak sadar), sedangkan gangguan mental kajiannya lebih pada aspek rasa pada diri yang melandisi terhadap kegiatan yang akan dilakukan. Gangguan kejiwaan mempunyai kajian yang lebih luas  daripada mental. Gangguan ini meliputi jiwa an hasilnya terlihat dari fisik, sedangkan mental hanya ekspresi individu yang mengalami gangguan.

B. Masalah
1. Apa pengertian gangguan mental dan kejiwaan?
2. Apa faktor-faktor yang menyebabkan gangguan mental dan kejiwaan?
3. Bagaimana kondisi individu pada kasus gangguan mental dan kejiwaan?
4. Bagaimana dampak dan solusi pada gangguan mental dan kejiwaan?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian gangguan mental dan kejiwaan
2. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gangguan mental dan kejiwaan
3. Mengetahui kondisi individu pada kasus gangguan mental dan kejiwaan
4. Mengetahui dampak dan solusi pada gangguan mental dan kejiwaan
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
1.   Gangguan Mental
Ganggguan mental merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadap stimuli (rangsangan) sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor penyebab lainnya.[1] Gangguan ini menyerang pada keseluruhan rasa dan ekspresi pada manusai yang merupakan hasil dari penyebab faktor yang mempengaruhinya. Keadaan ini akan berdampak pada hubungan sosial inividu, karena dalam bersosialisasi tentu akan mempengaruhi hubungan yang terjalin. Misalnya dalam menerima rangsangan akan sulit untuk menerima bahkan akan menolaknya. Gangguan pada sektor ini misalnya, rasa pusing, sesak nafas, demam panas dan nyeri paa lambung sebagai gambaran fisiknya.[2] Gejala-gejala tersebut timbul akbat adanya hubungan antara fisik dan psikis yang tiak dapat ipisahkan dan berpengaruh pada keadaan mental, sehingga gejalanya dapat terlihat dari segi empiriknya.
Selain gejala-gejala tersebut terdapat juga gejala lain seperti cemas, ketakutan, pahit hati, dengki, apatis, cemburu, iri, marah, asosial dan lain-lain. Jika dilihat kondisi ini lebih pada keadaan psikis saja dan nantinya akan berdampak pada kondisi fisik. Gangguan seperti ini dapat terjadi jika adanya ketenangan batin. Ketenangan ini sangat berpengaruh dalam diri manusia uuntuk dapat mengolah rasa, memperlihatkan ekspresi diri sebagai gambaran dari kondisi mental tertentu. Individu akan terlihat mempunyai gangguan mental bisa dilihat dari perubahan fisik dan tingkah lakunya, karena merupakan respon terhadap gejala mental yang diderita yang di aktualisasikan oleh tindaka atau fisik.
Gangguan mental ini terjadi karena adanya gangguan paa penerimaan rangsangan, misalnya sters. Menurut Dr. Hans Selye[3], stres adalah respon umum terhadap aanya tuntutan tubuh. Tuntutan tersebut adalah keharusan untuk menyesuaikan iri dan ada karenanya kesembangan tubuh terganggu. Kebutuhan dan keinginan manusia terus bertambah sehingga mendorong untuk mewujudkannya. Hal tersebut tentu memberikan dorongan besar pada terciptanya gangguan ini. Stres merupakan gejala dari adanya gangguan mental yang mendera invidu. Tuntutan hidup yang keras akan berperan besar dalam lahirnya gejala ini. Stres akan berdampak pada kondisi fisik, psikis, dan sosial. Dan jika sudah berkembang lebih besar akan memunculkan gangguan mental dan tentu merupakan kelainan yang diderita oleh individu yang harus segera dihilangkan.

2.      Gangguan Kejiwaan
Gangguan kejiwaan merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik maupun dengan mental, keabnormalan tersebut tidak disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian-bagian anggota badan, meskipun kadang-kadang gejalanya terlihat pada fisik.[4] Keabnormalan ini terbagi menjadi dua yaitu ganggua jiwa dan sakit jiwa. Ada  perbedaan antara ganggua jiwa dan sakit jiwa yaitu orang yang menderita gangguan jiwa masih mengetahui dan memasukkan kesukarannya, kepribadian tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya, sebaliknya jika sakit jiwa tidak dan kejiwaanya jauh dari segala segi dan terganggu serta hiu dari alam kenyataan.[5]
Keadaan ini merupakan akibat ari adanya gangguan terhadap fungsi psikis yang seharusnya menghasilkan kepribadian yang baik tetapi tidak dapat menjalankan fungsinya, sehingga berdampak pada mental dan fisik. Gangguan ini memiliki wilayah yang lebih luas daripada mental, karena akibat dari adanya gangguan mental yang kadang terlihat kerusakan anggota badan, tetapi sebagian dalam realitas kondisi fisiknya tidak terganggu.  Kondisi fisik yang sehat tidak dapat menjamin sehatnya kejiwaan inividu, tetapi psikis akan berdampak pada kondisi fisik. Tetapi kedua hal ini sangat berhubungan dan membentuk satu kesatuan sisitem.  Atau merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia.

B.     Faktor-faktor Penyebab Gangguan Mental dan Kejiwaan
1.   Gangguan mental[6]
a.    Predisposisi struktur biologis atau jasmaniah dan mental atau kepribadian yang lemah.
b.   Konflik-konflik sosial an konflik-konflik an mental atau mempengaruhi iri manusia.
c.    Pemasakan batin (internalisasi) ari pengalaman yang keliru yaitu pencernaan pengalaman oleh diri si subyek yang salah.

2.   Gangguan kejiwaan
a.  Melindungi anak secara berlebihan karena memanjanya: Hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya tidak menuntut saja, lekas berekcil hati, tidak tahan kekecewaan. Ingin menarik perhatian kepada dirinya sendiri. Kurang rasa bertanggung jawab. Cenderung menolak peraturan dan minta dikecualikan.
b. Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk saja”Kurang berani dalam pekerjaan, condong lekas menyerah. Bersikap pasif dan bergantung kepada orang lain. Ingin menjadi “anak emas” dan menerima saja segala perintah.
c.  Penolakan (anak tidak disukai): Merasa gelisah dan diasingkan. Bersikap melawan orang tua dan mencari bantuan kepada orang lain. Tidak mampu memberi dan menerima kasih-sayang.
d.    Menentukan normanorma etika dan moral yang terlalu tinggi: Menilai dirinya dan hal lain juga dengan norma yang terlalu keras dan tinggi. Sering kaku dan keras dalam pergaulan. Cenderung menjadi sempurna (“perfectionnism”) dengan cara yang berlebihan. Lekas merasa bersalah, berdosa dan tidak berarti.
e.    Disiplin yang terlalu keras Menilai dan menuntut dari pada dirinya juga secara terlalu keras: Agar dapat meneruskan dan menyelesaikan sesuatu usaha dengan baik, diperlukannya sikap menghargai yang tinggi dari luar.
f.    Disiplin yang tak teratur atau yang bertentangan: Sikap anak terhadap nilai dan normapun tak teratur. Kurang tetap dalam menghadapi berbagai persoalan didorong kesana kemari antara berbagai nilai yang bertentangan. Perlu diingat bahwa hubungan orangtua-anak selalu merupakan suatu interaksi (saling mempengaruhi), bukanlah hanya pengaruh satu arah dari orangtua ke anak.
g.   Masa remaja dikenal sebagai masa gawat dalam perkembangan kepribadian, sebagai masa “badai dan stres”. Dalam masa ini inidvidu dihadapi dengan pertumbuhan yang cepat, perubahan-perubahan badaniah dan pematangan sexual. Pada waktu yang sama status sosialnya juga mengalami perubahan, bila dahulu ia sangat tergantung kepada orangtuanya atau orang lain, sekarang ia harus belajar berdiri sendiri dan bertanggung jawab yang membawa dengan sendirinya masalah pernikahan, pekerjaan dan status sosial umum. Kebebasan yang lebih besar membawa tanggung jawab yang lebih besar pula.
h.   Faktor sosiologik dalam perkembangan yang salah: Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling berbahaya di zaman modern, di negara-negara dengan “super-industrialisasi”, ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang makin cepat dalam hal “ke-sementara-an” (“transience”), “ke-baru-an” (“novelty”) dan “ke-aneka-ragaman” (“diversity”). Dengan demikian individu menerima rangsangan yang berlebihan sehingga kemungkinan terjadinya kekacuan mental lebih besar. Karena hal ini lebih besar kemungkiannya dalam masa depan, maka dinamakannya “shok masa depan” (“future shock”).
i.      Genetika: Menurut Cloninger, 1989 gangguan jiwa; terutama gangguan persepsi sensori dan gangguan psikotik lainnya erat sekali penyebabnya dengan faktor genetik termasuk di dalamnya saudara kembar, atau anak hasil adopsi. Individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak memiliki faktor herediter. Individu yang memiliki hubungan sebagai ayah, ibu, saudara atau anak dari klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 10 %, sedangkan keponakan atau cucu kejadiannya 2-4 %. Individu yang memiliki hubungan sebagai kembar identik dengan klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 46-48 %, sedangkan kembar dizygot memiliki kecenderungan 14-17 %. Faktor genetik tersebut sangat ditunjang dengan pola asuh yang diwariskan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki oleh anggota keluarga klien yang mengalamigangguan jiwa.
j.     Neurobehavioral: Kerusakan pada bagian-bagian otak tertentu ternyata memegang peranan pada timbulnya gejalagejala gangguan jiwa, misalnya: Kerusakan pada lobus frontalis: menyebabkan kesulitan dalam proses pemecahan masalah dan perilaku yang mengarah pada tujuan, berfikir abstrak, perhatian dengan manifestasi gangguan psikomotorik.
k.   Stress: Stress psikososial dan stress perkembangan yang terjadi secara terus menerus dengan koping yang tidak efektif akan mendukung timbulnya gejala psikotik dengan manifestasi; kemiskinan, kebodohan, pengangguran, isolasi sosial, dan perasaan kehilangan.
l.     Penyalah gunaan obat-obatan:Koping yang maladaptif yang digunakan individu untuk menghadapi strsessor melalui obat-obatan yang memiliki sipat adiksi (efek ketergantungan) seperti Cocaine, amphetamine menyebabkan gangguan persefsi, gangguan proses berfikir, gangguan motorik dan lain-lain.
m. Psikodinamik: Menurut Sigmund Freud adanya gangguan tugas pekembangan pada masa anak terutama dalam hal berhubungan dengan orang lain sering menyebabkan frustasi, konflik, dan perasaan takut, respon orang tua yang maladaptif pada anak akan meningkatkan stress, sedangkan frustasi dan rasa tidak percaya yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan regresi dan withdral.
 Untuk mengetahui mana penyebab yang asli dan mana yang bukan perlu diketahui dua istilah: sebab yang memberikan predisposisi adalah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi rentan/peka terhadap suatu gangguan jiwa (genetik, fisik atau latar belakang keluarga/ sosial. Sebab yang menimbulkan langsung atau pencetus adalah faktor traumatis langsung menyebabkan gangguan jiwa (kehilangan harta pekerjaan/ kematian, cendera berat, perceraian dan lain-lain. Secara umum sebab-sebab gangguan jiwa dibedakan atas :
a.            Sebab-sebab jasmaniah/ biologic
  1. Keturunan, Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.
  2. Jasmaniah, beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk / endoform cenderung menderita psikosa manik defresif, sedang yang kurus/ ectoform cenderung menjadi skizofrenia
  3. Teperamen, Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan jiwa.
4.      Penyakit dan cedera tubuh, Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker dan sebagainya, mungkin menyebabkan merasa murung dan sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri.

b.             Sebab-sebab kejiwaan/ psikologik
1.      Perkembangan seksual: Pendekatan yang sehat, kesediaan untuk memberi jawaban secara jelas, terus terang, wajar dan objektif terhadap masalah seksual pada anak akan mengembangkan sikap yang positif. Reaksi orang tua yang menyebabkan anak menganggap sek adalah tabu, menjijikan, memalukan dan sebagainya akan merupakan awal kesulitan seksual dikemudian hari.
2.      Kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan: Kematian, kecelakaan, sakit berat, penceraian, perpindahan yang mendadak, kekecewaan yang berlarut-larut dan sebagainya akan mempengaruhi perkembangan kepribadian, tapi juga tergantung pada keadaan sekitarnya (orang, lingkungan atau suasana saat itu) apakah mendukung atau mendorong dan juga tergantung pada pengalamannya dalam menghadapi masalah tersebut.
c.              Sebab-sebab yang berdasarkan kebudayaan
1.      Sistem Nilai: Perbedaan sistem nilai moral dan etika antara kebudayaan yang satu dengan yang lain, antara masa lalu dengan sekarang sering menimbulkan masalah-masalah kejiwaan. Begitu pula perbedaan moral yang diajarkan dirumah / sekolah dengan yang dipraktekkan di masyarakat sehari-hari.
2.      Kepincangan antar keinginan dengan kenyataan yang ada: Iklan-iklan diradio, televisi. Surat kabar, film dan lain-lain menimbulkan bayangan-bayangan yang menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin jauh dari kenyataan hidup sehari-hari. Akibat rasa kecewa yang timbul, seseorang mencoba mengatasinya dengan khayalan atau melakukan yang merugikan masyarakat.
3.      Ketegangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan teknologi : Dalam masyarakat modern kebutuhan makin meningkat dan persaingan makin meningkat dan makin ketat untuk meningkatkan ekonomi hasil-hasil teknologi modern. Memacu orang untuk bekerja lebih keras agar dapat memilikinya. Jumlah orang yang ingin bekerja lebih besar dari kebutuhan sehingga pengangguran meningkat, demikian pula urbanisasi meningkat, mengakibatkan upah menjadi rendah. Faktor-faktor gaji yang rendah, perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga sangat terbatas dan sebagainya merupakan sebagian mengakibatkan perkembangan kepribadian yang abnormal.
4.      Perpindahan perpindahan kesatuan keluarga :Khusus untuk anak yang sedang berkembang kepribadiannya, perubahan-perubahan lingkungan (kebudayaan dan pergaulan). Hal ini cukup mengganggu.
5.      Masalah golongan minoritas:Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan ini dari lingkungan dapat mengakibatkan rasa pemberontakan yang selanjutnya akan tampil dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakan tindakan akan yang merugikan orang banyak.
C.    Kasus Gangguan Mental dan Kejiwaan
1.   Gangguan Mental
a.          Psikopat
b.         Psikoneurosa: histeria, fobia. Obsesi, dan lain-lain
c.          Psikosa fungsional: schizofrenia, manis depresif, paranoia
Studi kasus:   Schizoprhenia[7] adalah gangguan mental yang ditandai dengan disintegrasi proses pemikiran dan respon emosional. Ini paling sering bermanifestasi sebagai halusinasi pendengaran, delusi paranoid atau aneh, atau bicara tidak teratur dan berpikir, dan disertai dengan disfungsi sosial atau pekerjaan yang signifikan. Timbulnya gejala biasanya terjadi pada dewasa muda, dengan prevalensi seumur hidup global sekitar 0,3-0,7%. Meskipun etimologi istilah dari skhizein akar Yunani (σχίζειν, "untuk split") dan phrēn, phren-(φρήν, φρεν-; "pikiran"), skizofrenia tidak menyiratkan "split pikiran" dan itu tidak sama sebagai gangguan identitas disosiatif-juga dikenal sebagai "gangguan kepribadian ganda" atau "kepribadian ganda"-kondisi dengan yang sering bingung dalam persepsi publik. 
Gangguan diperkirakan terutama untuk mempengaruhi kognisi, tetapi juga biasanya memberikan kontribusi untuk masalah kronis dengan perilaku dan emosi. Orang dengan skizofrenia cenderung memiliki tambahan (komorbiditas) kondisi, termasuk depresi mayor dan gangguan kecemasan; terjadinya penyalahgunaan zat umur hampir 50% masalah sosial, seperti pengangguran jangka panjang, kemiskinan dan tunawisma, adalah biasa. Harapan hidup rata-rata orang dengan gangguan ini adalah 12 sampai 15 tahun kurang dari mereka yang tidak, hasil dari meningkatnya masalah kesehatan fisik dan tingkat bunuh diri yang lebih tinggi (sekitar 5%). Berikut kurang lebih contoh yg bisa saya berikan
Roy adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang bagus dan mendapatkan pujian pada tiap semesternya.
Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di universitasnya, semuanya mulai berubah. Roy tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengebaikan kesehatan pribadinya dan berhenti menghadiri kuliah. Roy mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Roy menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk menipunya. Roy mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Roy sedang sendirian di kamarnya, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.
2.   Gangguan Kejiwaan
a.    Neurasthenia: mudah letih, mudah marah, sulit tidur
b.   Keabnormalan seksual: onani (mastrubasi), homo seksual, sadisan
Studi kasus: Ny T mengalami kesulitan memulai tidur dan hanya tidur kurang lebih tiga jam dalam satu malam tetapi setiap satu jam sekali selalu terbangun. Kondisi ini mengakibatkan Ny T selalu merasa tubuhnya tidak fresh dan berat badannya mengalami penurunan dari 52 kg menjadi 47 kg. Penyebab Ny T mengalami insomnia adalah suami Ny T menuduh Ny T telah berselingkuh karena hasutan tetangga yang tidak suka pada Ny T. Ny T berusaha menjelaskan pada suaminya bahwa dirinya tidak berselingkuh, tetapi suami Ny T tetap tidak percaya. Suami Ny T selalu marah-marah pada Ny T dan melarang Ny T untuk berbincang-bincang dengan tetangga di luar rumah. Suami Ny T juga pelit dalam memberikan uang belanja dan melarang Ny T untuk berdagang. Pada awalnya, Ny T berusaha untuk tidak terlalu serius dalam memikirkan masalahnya dan menuruti keinginan suaminya, namun suami Ny T tetap memperlakukan Ny T dengan buruk. Suami Ny T selalu memarahi Ny T sehingga Ny T selalu memikirkannya dan merasa tertekan. Ny T dan suaminya juga pisah ranjang. Ny T juga takut bercerita pada suaminya bahwa dirinya mengalami kesulitan tidur setiap hari.[8]
D.    Dampak dan Solusi
Kondisi psikis yang mengalami gangguan mental dan kejiwaan tentu memberkan ampak pada kondisi sosial maupun untuk pribadi masing-masing. Dampak untuk internal (pribadi) yaitu terganggu fungsi anggota fisik tubuh, hilangnya kesadaran diri, tidak dapat bersosialisasi secara normal, dan bahkan akan terjadi disintegrasi. Sedangkan pada dampak sosial yaitu akan hilangnya fungsi, kenduduk, dan  peranan individu dalam sosial, tanggapan yang berubah dari orang lain terhadap keluarga penderita dan hilangnya penghargaan diri terhadap penderita.
Gangguan mental dan kejiwaan adalah faktor sosial dan kultural yang bisa hindari dan diobati, yaitu;  selalu memelihara kebersihan jiwa dengan bertingkah laku sesila, tiak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak banyak konflik dengan lingkungannya, menegakkan disiplin diri yang ketat, berusaha berfikir dan berbuat wajar tanpa pengguanaan mekanisme pelarian iri an mekanisme pertahanan diri yang negatif, berani menghadapi kesulitan dengan nyata dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkrit serta tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Gangguan mental dan kejiwaan merupakan terganggunya bagian psikis manusia yang dapat berdampak pada fisik. Gangguan ini mungkin terlihat berbeda tetapi mempunyai kajian yang berbeda. Gangguan mental merupakan ketidakormalan dalam mengelola rasa dan menggambarkan ekspresi diri yang diakibatkan oleh faktor penyebabnya. Sedangkan gangguan kejiwaan adalah patologis pada mental dan fisik, walaupun terkadang fisik tidak mendapat gangguan. Kedua hal ini mempengaruhi dalam peranan dan kedudukan inividu sebagai makhluk yang berguna bagi sosial. Individu yang mengalami gangguan akan berdampak pada hubungannya dengan masyarakat, sehingga terkena deviasi personal. Dan jika menganggap prilaku salahnya itu benar akan menjadi patologi. Hal ini sangat berpengaruh pada sosialisasi dan penghargaan pada diri maupun orang lain. Individu akan tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Hilangnya kesadaran ternyata berdampak besar pada kehidupan sosialnya.

B.         Saran
Dengan adanya makalah Ini maka diharapkan untuk dapat mengaplikasikan pada kehidupan dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup.













Daftar Pustaka
Wiryo Setiana.2011. Patologi Sosial. Bandung: Mimbar Pustaka
Kartin Kartono. 1992. Patologi Sosial, Jakarta:  Rajawali Pers
wikipedia.com
http://www.kompas.com/kompas (Kliping Kesehatan Jiwa Pemahaman Baru, Harapan Baru)