BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Manusia terdiri dari
fisik dan psikis yang saling mendukung dalam terciptanya pribadi yang sempurna.
Keadaan fisik dari luar dapat dikatakan sebagai gambaran psikis suatu individu.
Secara langsung psikis manusia akan mempengarihi fisiknya, begitupun sebaliknya
psikis juga akan berpengaruh pada keadaan fisik manusia. Kondisi yang sehat dan
bugar secara jasmani merupakan hasil dari psikis yang ada dalam kondisi sehat
dan tidak sedang mempunyai masalah. Dua hal ini menjadi satu kesatuan yang
sangat berperan dalam pembangunan kepribadian manusia. Jika salah satu dari hal
tersebut mangalami gangguan maka akan berdampak pada bagian lainnya. Fisik apat
dilihat dari luar, seperti keadaan kekebalan tubuh yang menurun atau meningkat,
sedangkan psikis terlihat eksplisit gejalanya. Hanya pada kondisi tertentu
keadaan ini bisa terlihat, bahkan bisa jadi hanya diri sendiri yang
mengetahuinya. Dalam keadaan yang primalah akan mampu menyeimbangkan kondisi
tubuh dalam diri manusia.
Dalam hal psikis
terdapat gangguan yaitu gangguan kejiwaan dan mental. Kedua hal ini terlihat
sama, tetapi mempunyai makna dan kajian yang berbeda. Ganggua kejiwaan
merupakan gangguan yang dialami individu terhadap keadaan jiwa (alam tak
sadar), sedangkan gangguan mental kajiannya lebih pada aspek rasa pada diri
yang melandisi terhadap kegiatan yang akan dilakukan. Gangguan kejiwaan
mempunyai kajian yang lebih luas
daripada mental. Gangguan ini meliputi jiwa an hasilnya terlihat dari
fisik, sedangkan mental hanya ekspresi individu yang mengalami gangguan.
B. Masalah
1. Apa
pengertian gangguan mental dan kejiwaan?
2. Apa
faktor-faktor yang menyebabkan gangguan mental dan kejiwaan?
3. Bagaimana
kondisi individu pada kasus gangguan mental dan kejiwaan?
4. Bagaimana dampak
dan solusi pada gangguan mental dan kejiwaan?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian gangguan mental dan kejiwaan
2. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gangguan mental dan
kejiwaan
3. Mengetahui kondisi individu pada kasus gangguan mental dan
kejiwaan
4. Mengetahui dampak dan solusi pada gangguan mental dan kejiwaan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
1.
Gangguan Mental
Ganggguan mental merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental
yang patologis terhadap stimuli (rangsangan) sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor
penyebab lainnya.[1] Gangguan
ini menyerang pada keseluruhan rasa dan ekspresi pada manusai yang merupakan
hasil dari penyebab faktor yang mempengaruhinya. Keadaan ini akan berdampak
pada hubungan sosial inividu, karena dalam bersosialisasi tentu akan
mempengaruhi hubungan yang terjalin. Misalnya dalam menerima rangsangan akan
sulit untuk menerima bahkan akan menolaknya. Gangguan pada sektor ini misalnya,
rasa pusing, sesak nafas, demam panas dan nyeri paa lambung sebagai gambaran
fisiknya.[2]
Gejala-gejala tersebut timbul akbat adanya hubungan antara fisik dan psikis
yang tiak dapat ipisahkan dan berpengaruh pada keadaan mental, sehingga
gejalanya dapat terlihat dari segi empiriknya.
Selain gejala-gejala tersebut terdapat juga gejala lain seperti cemas,
ketakutan, pahit hati, dengki, apatis, cemburu, iri, marah, asosial dan
lain-lain. Jika dilihat kondisi ini lebih pada keadaan psikis saja dan nantinya
akan berdampak pada kondisi fisik. Gangguan seperti ini dapat terjadi jika
adanya ketenangan batin. Ketenangan ini sangat berpengaruh dalam diri manusia
uuntuk dapat mengolah rasa, memperlihatkan ekspresi diri sebagai gambaran dari
kondisi mental tertentu. Individu akan terlihat mempunyai gangguan mental bisa
dilihat dari perubahan fisik dan tingkah lakunya, karena merupakan respon
terhadap gejala mental yang diderita yang di aktualisasikan oleh tindaka atau
fisik.
Gangguan mental ini terjadi karena adanya gangguan paa penerimaan
rangsangan, misalnya sters. Menurut Dr. Hans Selye[3],
stres adalah respon umum terhadap aanya tuntutan tubuh. Tuntutan tersebut
adalah keharusan untuk menyesuaikan iri dan ada karenanya kesembangan tubuh
terganggu. Kebutuhan dan keinginan manusia terus bertambah sehingga mendorong untuk
mewujudkannya. Hal tersebut tentu memberikan dorongan besar pada terciptanya
gangguan ini. Stres merupakan gejala dari adanya gangguan mental yang mendera
invidu. Tuntutan hidup yang keras akan berperan besar dalam lahirnya gejala
ini. Stres akan berdampak pada kondisi fisik, psikis, dan sosial. Dan jika
sudah berkembang lebih besar akan memunculkan gangguan mental dan tentu
merupakan kelainan yang diderita oleh individu yang harus segera dihilangkan.
2.
Gangguan
Kejiwaan
Gangguan kejiwaan
merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang
berhubungan dengan fisik maupun dengan mental, keabnormalan tersebut tidak
disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian-bagian anggota badan, meskipun
kadang-kadang gejalanya terlihat pada fisik.[4]
Keabnormalan ini terbagi menjadi dua yaitu ganggua jiwa dan sakit jiwa. Ada perbedaan antara ganggua jiwa dan sakit jiwa
yaitu orang yang menderita gangguan jiwa masih mengetahui dan memasukkan
kesukarannya, kepribadian tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam
kenyataan pada umumnya, sebaliknya jika sakit jiwa tidak dan kejiwaanya jauh
dari segala segi dan terganggu serta hiu dari alam kenyataan.[5]
Keadaan ini merupakan akibat ari adanya
gangguan terhadap fungsi psikis yang seharusnya menghasilkan kepribadian yang
baik tetapi tidak dapat menjalankan fungsinya, sehingga berdampak pada mental
dan fisik. Gangguan ini memiliki wilayah yang lebih luas daripada mental,
karena akibat dari adanya gangguan mental yang kadang terlihat kerusakan
anggota badan, tetapi sebagian dalam realitas kondisi fisiknya tidak
terganggu. Kondisi fisik yang sehat
tidak dapat menjamin sehatnya kejiwaan inividu, tetapi psikis akan berdampak
pada kondisi fisik. Tetapi kedua hal ini sangat berhubungan dan membentuk satu
kesatuan sisitem. Atau merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang
secara klinik cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala
penderitaan atau gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari
manusia.
B.
Faktor-faktor
Penyebab Gangguan Mental dan Kejiwaan
a. Predisposisi struktur
biologis atau jasmaniah dan mental atau kepribadian yang lemah.
b. Konflik-konflik sosial an
konflik-konflik an mental atau mempengaruhi iri manusia.
c. Pemasakan batin
(internalisasi) ari pengalaman yang keliru yaitu pencernaan pengalaman oleh diri
si subyek yang salah.
2.
Gangguan kejiwaan
a. Melindungi anak secara berlebihan karena
memanjanya: Hanya memikirkan dirinya
sendiri, hanya tidak menuntut saja, lekas berekcil hati, tidak tahan
kekecewaan. Ingin menarik perhatian kepada dirinya sendiri.
Kurang rasa bertanggung jawab. Cenderung menolak peraturan dan minta
dikecualikan.
b.
Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk
saja”Kurang berani dalam pekerjaan, condong lekas
menyerah. Bersikap pasif dan bergantung kepada orang lain. Ingin menjadi “anak
emas” dan menerima saja segala perintah.
c. Penolakan (anak tidak disukai): Merasa gelisah dan diasingkan. Bersikap melawan
orang tua dan mencari bantuan kepada orang lain. Tidak mampu memberi dan menerima
kasih-sayang.
d.
Menentukan normanorma etika dan moral yang
terlalu tinggi: Menilai
dirinya dan hal lain juga dengan norma yang terlalu keras dan tinggi. Sering
kaku dan keras dalam pergaulan. Cenderung menjadi sempurna (“perfectionnism”)
dengan cara yang berlebihan. Lekas merasa bersalah, berdosa dan tidak berarti.
e.
Disiplin
yang terlalu keras Menilai dan menuntut dari pada dirinya juga secara terlalu
keras: Agar
dapat meneruskan dan menyelesaikan sesuatu usaha dengan baik, diperlukannya
sikap menghargai yang tinggi dari luar.
f.
Disiplin
yang tak teratur atau yang bertentangan: Sikap anak terhadap nilai dan normapun tak
teratur. Kurang tetap dalam menghadapi berbagai persoalan didorong kesana
kemari antara berbagai nilai yang bertentangan. Perlu diingat bahwa hubungan
orangtua-anak selalu merupakan suatu interaksi (saling mempengaruhi), bukanlah
hanya pengaruh satu arah dari orangtua ke anak.
g. Masa remaja dikenal
sebagai masa gawat dalam perkembangan kepribadian, sebagai masa “badai dan
stres”. Dalam masa ini inidvidu dihadapi dengan pertumbuhan yang cepat,
perubahan-perubahan badaniah dan pematangan sexual. Pada waktu yang sama status
sosialnya juga mengalami perubahan, bila dahulu ia sangat tergantung kepada
orangtuanya atau orang lain, sekarang ia harus belajar berdiri sendiri dan
bertanggung jawab yang membawa dengan sendirinya masalah pernikahan, pekerjaan
dan status sosial umum. Kebebasan yang lebih besar membawa tanggung jawab yang
lebih besar pula.
h.
Faktor
sosiologik dalam perkembangan yang salah: Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling
berbahaya di zaman modern, di negara-negara dengan “super-industrialisasi”,
ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang makin cepat dalam hal
“ke-sementara-an” (“transience”), “ke-baru-an” (“novelty”) dan “ke-aneka-ragaman”
(“diversity”). Dengan demikian individu menerima rangsangan yang berlebihan
sehingga kemungkinan terjadinya kekacuan mental lebih besar. Karena hal ini
lebih besar kemungkiannya dalam masa depan, maka dinamakannya “shok masa depan”
(“future shock”).
i.
Genetika: Menurut Cloninger, 1989 gangguan jiwa; terutama
gangguan persepsi sensori dan gangguan psikotik lainnya erat sekali penyebabnya
dengan faktor genetik termasuk di dalamnya saudara kembar, atau anak hasil
adopsi. Individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak memiliki
faktor herediter. Individu
yang memiliki hubungan sebagai ayah, ibu, saudara atau anak dari klien yang
mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 10 %, sedangkan keponakan atau
cucu kejadiannya 2-4 %. Individu yang memiliki hubungan sebagai kembar identik
dengan klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 46-48 %,
sedangkan kembar dizygot memiliki kecenderungan 14-17 %. Faktor
genetik tersebut sangat ditunjang dengan pola asuh yang diwariskan sesuai
dengan pengalaman yang dimiliki oleh anggota keluarga klien yang
mengalamigangguan jiwa.
j.
Neurobehavioral: Kerusakan pada bagian-bagian otak tertentu
ternyata memegang peranan pada timbulnya gejalagejala gangguan jiwa, misalnya:
Kerusakan pada lobus frontalis: menyebabkan kesulitan dalam proses pemecahan
masalah dan perilaku yang mengarah pada tujuan, berfikir abstrak, perhatian
dengan manifestasi gangguan psikomotorik.
k.
Stress: Stress psikososial dan stress perkembangan yang
terjadi secara terus menerus dengan koping yang tidak efektif akan mendukung
timbulnya gejala psikotik dengan manifestasi; kemiskinan, kebodohan,
pengangguran, isolasi sosial, dan perasaan kehilangan.
l.
Penyalah
gunaan obat-obatan:Koping
yang maladaptif yang digunakan individu untuk menghadapi strsessor melalui
obat-obatan yang memiliki sipat adiksi (efek ketergantungan) seperti Cocaine,
amphetamine menyebabkan gangguan persefsi, gangguan proses
berfikir, gangguan motorik dan lain-lain.
m.
Psikodinamik: Menurut Sigmund Freud adanya gangguan tugas
pekembangan pada masa anak terutama dalam hal berhubungan dengan orang lain
sering menyebabkan frustasi, konflik, dan perasaan takut, respon orang tua yang
maladaptif pada anak akan meningkatkan stress, sedangkan frustasi dan rasa
tidak percaya yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan regresi dan
withdral.
Untuk mengetahui mana penyebab yang asli dan
mana yang bukan perlu diketahui dua istilah: sebab yang memberikan predisposisi
adalah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi rentan/peka terhadap suatu
gangguan jiwa (genetik, fisik atau latar belakang keluarga/ sosial. Sebab
yang menimbulkan langsung atau pencetus adalah faktor traumatis langsung
menyebabkan gangguan jiwa (kehilangan harta pekerjaan/ kematian, cendera berat,
perceraian dan lain-lain. Secara umum
sebab-sebab gangguan jiwa dibedakan atas :
a.
Sebab-sebab
jasmaniah/ biologic
- Keturunan, Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan kejiwaan yang tidak sehat.
- Jasmaniah, beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk / endoform cenderung menderita psikosa manik defresif, sedang yang kurus/ ectoform cenderung menjadi skizofrenia
- Teperamen, Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan jiwa.
4.
Penyakit dan cedera tubuh, Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker dan
sebagainya, mungkin menyebabkan merasa murung dan sedih. Demikian pula
cedera/cacat tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri.
b.
Sebab-sebab kejiwaan/
psikologik
1.
Perkembangan seksual: Pendekatan yang sehat, kesediaan untuk memberi
jawaban secara jelas, terus terang, wajar dan objektif terhadap masalah seksual
pada anak akan mengembangkan sikap yang positif. Reaksi orang tua yang
menyebabkan anak menganggap sek adalah tabu, menjijikan, memalukan dan
sebagainya akan merupakan awal kesulitan seksual dikemudian hari.
2.
Kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan: Kematian, kecelakaan, sakit berat, penceraian,
perpindahan yang mendadak, kekecewaan yang berlarut-larut dan sebagainya akan
mempengaruhi perkembangan kepribadian, tapi juga tergantung pada keadaan
sekitarnya (orang, lingkungan atau suasana saat itu) apakah mendukung atau
mendorong dan juga tergantung pada pengalamannya dalam menghadapi masalah
tersebut.
c.
Sebab-sebab yang berdasarkan
kebudayaan
1. Sistem Nilai: Perbedaan sistem nilai moral dan etika antara
kebudayaan yang satu dengan yang lain, antara masa lalu dengan sekarang sering
menimbulkan masalah-masalah kejiwaan. Begitu pula perbedaan moral yang
diajarkan dirumah / sekolah dengan yang dipraktekkan di masyarakat sehari-hari.
2. Kepincangan antar keinginan dengan kenyataan
yang ada: Iklan-iklan
diradio, televisi. Surat kabar, film dan lain-lain menimbulkan
bayangan-bayangan yang menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin jauh
dari kenyataan hidup sehari-hari. Akibat rasa kecewa yang timbul, seseorang
mencoba mengatasinya dengan khayalan atau melakukan yang merugikan masyarakat.
3. Ketegangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan
teknologi : Dalam
masyarakat modern kebutuhan makin meningkat dan persaingan makin meningkat dan
makin ketat untuk meningkatkan ekonomi hasil-hasil teknologi modern. Memacu
orang untuk bekerja lebih keras agar dapat memilikinya. Jumlah orang yang ingin
bekerja lebih besar dari kebutuhan sehingga pengangguran meningkat, demikian
pula urbanisasi meningkat, mengakibatkan upah menjadi rendah. Faktor-faktor
gaji yang rendah, perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul dengan
keluarga sangat terbatas dan sebagainya merupakan sebagian mengakibatkan
perkembangan kepribadian yang abnormal.
4. Perpindahan perpindahan kesatuan keluarga :Khusus untuk anak yang sedang berkembang
kepribadiannya, perubahan-perubahan lingkungan (kebudayaan
dan pergaulan). Hal ini cukup mengganggu.
5. Masalah golongan minoritas:Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan
ini dari lingkungan dapat mengakibatkan rasa pemberontakan yang selanjutnya
akan tampil dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakan tindakan akan yang
merugikan orang banyak.
C.
Kasus Gangguan Mental dan Kejiwaan
1.
Gangguan Mental
a.
Psikopat
b.
Psikoneurosa:
histeria, fobia. Obsesi, dan lain-lain
c.
Psikosa fungsional:
schizofrenia, manis depresif, paranoia
Studi kasus: Schizoprhenia[7] adalah gangguan mental yang ditandai dengan disintegrasi proses pemikiran dan respon emosional.
Ini paling sering bermanifestasi sebagai halusinasi pendengaran, delusi paranoid
atau aneh, atau bicara tidak teratur dan berpikir, dan disertai dengan
disfungsi sosial atau pekerjaan yang signifikan. Timbulnya gejala biasanya
terjadi pada dewasa muda, dengan prevalensi seumur hidup global sekitar
0,3-0,7%. Meskipun etimologi istilah dari skhizein akar Yunani (σχίζειν,
"untuk split") dan phrēn, phren-(φρήν, φρεν-; "pikiran"),
skizofrenia tidak menyiratkan "split pikiran" dan itu tidak sama
sebagai gangguan identitas disosiatif-juga dikenal sebagai "gangguan
kepribadian ganda" atau "kepribadian ganda"-kondisi dengan yang
sering bingung dalam persepsi publik.
Gangguan diperkirakan terutama
untuk mempengaruhi kognisi, tetapi juga biasanya memberikan kontribusi untuk
masalah kronis dengan perilaku dan emosi. Orang dengan skizofrenia cenderung
memiliki tambahan (komorbiditas) kondisi, termasuk depresi mayor dan gangguan
kecemasan; terjadinya penyalahgunaan zat umur hampir 50% masalah sosial,
seperti pengangguran jangka panjang, kemiskinan dan tunawisma, adalah biasa.
Harapan hidup rata-rata orang dengan gangguan ini adalah 12 sampai 15 tahun
kurang dari mereka yang tidak, hasil dari meningkatnya masalah kesehatan fisik
dan tingkat bunuh diri yang lebih tinggi (sekitar 5%). Berikut kurang lebih
contoh yg bisa saya berikan
Roy adalah siswa yang baik di
sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang
bagus dan mendapatkan pujian pada tiap semesternya.
Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di universitasnya, semuanya mulai berubah. Roy tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengebaikan kesehatan pribadinya dan berhenti menghadiri kuliah. Roy mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Roy menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk menipunya. Roy mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Roy sedang sendirian di kamarnya, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.
Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di universitasnya, semuanya mulai berubah. Roy tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengebaikan kesehatan pribadinya dan berhenti menghadiri kuliah. Roy mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Roy menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk menipunya. Roy mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Roy sedang sendirian di kamarnya, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.
2.
Gangguan
Kejiwaan
a.
Neurasthenia:
mudah letih, mudah marah, sulit tidur
b.
Keabnormalan
seksual: onani (mastrubasi), homo seksual, sadisan
Studi kasus: Ny
T mengalami kesulitan memulai tidur dan hanya tidur kurang lebih tiga jam dalam
satu malam tetapi setiap satu jam sekali selalu terbangun. Kondisi ini
mengakibatkan Ny T selalu merasa tubuhnya tidak fresh dan berat badannya
mengalami penurunan dari 52 kg menjadi 47 kg. Penyebab Ny T mengalami insomnia
adalah suami Ny T menuduh Ny T telah berselingkuh karena hasutan tetangga yang
tidak suka pada Ny T. Ny T berusaha menjelaskan pada suaminya bahwa dirinya
tidak berselingkuh, tetapi suami Ny T tetap tidak percaya. Suami Ny T selalu
marah-marah pada Ny T dan melarang Ny T untuk berbincang-bincang dengan
tetangga di luar rumah. Suami Ny T juga pelit dalam memberikan uang belanja dan
melarang Ny T untuk berdagang. Pada awalnya, Ny T berusaha untuk tidak terlalu
serius dalam memikirkan masalahnya dan menuruti keinginan suaminya, namun suami
Ny T tetap memperlakukan Ny T dengan buruk. Suami Ny T selalu memarahi Ny T
sehingga Ny T selalu memikirkannya dan merasa tertekan. Ny T dan suaminya juga
pisah ranjang. Ny T juga takut bercerita pada suaminya bahwa dirinya mengalami
kesulitan tidur setiap hari.[8]
D.
Dampak dan
Solusi
Kondisi psikis yang mengalami gangguan mental
dan kejiwaan tentu memberkan ampak pada kondisi sosial maupun untuk pribadi
masing-masing. Dampak untuk internal (pribadi) yaitu terganggu fungsi anggota
fisik tubuh, hilangnya kesadaran diri, tidak dapat bersosialisasi secara
normal, dan bahkan akan terjadi disintegrasi. Sedangkan pada dampak sosial
yaitu akan hilangnya fungsi, kenduduk, dan
peranan individu dalam sosial, tanggapan yang berubah dari orang lain
terhadap keluarga penderita dan hilangnya penghargaan diri terhadap penderita.
Gangguan mental dan kejiwaan adalah faktor
sosial dan kultural yang bisa hindari dan diobati, yaitu; selalu memelihara kebersihan jiwa dengan
bertingkah laku sesila, tiak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak
banyak konflik dengan lingkungannya, menegakkan disiplin diri yang ketat,
berusaha berfikir dan berbuat wajar tanpa pengguanaan mekanisme pelarian iri an
mekanisme pertahanan diri yang negatif, berani menghadapi kesulitan dengan
nyata dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkrit serta
tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Gangguan mental dan kejiwaan merupakan terganggunya bagian psikis
manusia yang dapat berdampak pada fisik. Gangguan ini mungkin terlihat berbeda
tetapi mempunyai kajian yang berbeda. Gangguan mental merupakan ketidakormalan
dalam mengelola rasa dan menggambarkan ekspresi diri yang diakibatkan oleh
faktor penyebabnya. Sedangkan gangguan kejiwaan adalah patologis pada mental
dan fisik, walaupun terkadang fisik tidak mendapat gangguan. Kedua hal ini
mempengaruhi dalam peranan dan kedudukan inividu sebagai makhluk yang berguna
bagi sosial. Individu yang mengalami gangguan akan berdampak pada hubungannya
dengan masyarakat, sehingga terkena deviasi personal. Dan jika menganggap prilaku
salahnya itu benar akan menjadi patologi. Hal ini sangat berpengaruh pada
sosialisasi dan penghargaan pada diri maupun orang lain. Individu akan tidak
dapat menjalankan fungsinya sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial.
Hilangnya kesadaran ternyata berdampak besar pada kehidupan sosialnya.
B.
Saran
Dengan adanya
makalah Ini maka diharapkan untuk dapat mengaplikasikan pada kehidupan dengan
tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Daftar Pustaka
Wiryo
Setiana.2011. Patologi Sosial. Bandung: Mimbar Pustaka
Kartin Kartono.
1992. Patologi Sosial, Jakarta:
Rajawali Pers
wikipedia.com
http://www.kompas.com/kompas (Kliping Kesehatan Jiwa Pemahaman Baru, Harapan Baru)